close
Booking.com

Bangka Belitung | Permata Terpendam yang bersinar kembali

Rental Elf Tangerang Bandara
info - wisata

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terletak di sisi timur Pulau Sumatera, terdiri dari dua pulau utama yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung dengan jarak tidak terlalu jauh. Selain Bangka dan Belitung, provinsi ini juga memikili banyak pulau kecil yang mengitarinya. Ibukota Bangka Belitung adalah Kota Pangkalpinang.

Awalnya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seperti sebuah permata yang terpendam dan tidak bersinar, namun mendadak terang kembali sejak munculnya novel laskar pelangi karya Andrea Hirata yang menjadi buku laris. Apalagi setelah novel ini diangkat menjadi film layar lebar dan menggunakan salah satu pantai Belitung yaitu Pantai Tanjung Tinggi sebagai latar belakangnya. Sejak saat itu, banyak wisatawan yang berkunjung untuk sekedar menyaksikan langsung keindahan Pantai Tanjung Tinggi. Begitu populernya pantai ini hingga banyak orang yang menyebutnya dengan sebutan Pantai Laskar Pelangi.

Pantai Tanjung Tinggi memang pantas menjadi tujuan wisata. Daya tariknya terletak pada batu-batu granit berukuran besar yang bertumpuk dan berbaris dalam formasi tak beraturan di tepian pantainya. Banyak orang yang menggunakan batu-batu ini sebagai latar belakang foto, pasir putih serta airnya yang jernih dan berwarna biru kehijauan akan menambah efek eksotik.

Batu-batu granit raksasa ini diprediksi telah berusia lebih dari 200 juta tahun. Lokasinya yang menghadap laut lepas tampak seperti the cote de granit rose di pesisir utara Bretagne, Prancis. Dengan posisi ini sangat memungkinkan buat kita yang ingin melihat proses matahari terbenam secara utuh.

 
Selain pantai tadi, Kepulauan Bangka Belitung juga memiliki pantai lain yang tak kalah menarik seperti Pantai Parai Tenggiri, Tanjung Kelayang, Burung Mandi, Tanjung Binga, Punai serta Pantai Membalong yang semuanya menawarkan pemandagan indah dan menakjubkan.

Bangka Belitung dikenal juga sebagai penyimpan sejarah penting dalam industri timah Indonesia dan dunia. Bahkan kata Bangka sendiri berasal dari kata wangka yang berarti timah. Di provinsi ini terdapat sebuah museum yang banyak menyimpan cerita tentang jejak-jejak penambangan timah sejak abad ke-18. Museum Timah Indonesia, dibangun di Tanjung Pandan pada tahun 1958 atas prakarsa seorang Ahli Geologi Belgia, Dr. Oesberger yang bekerja di industri pertambangan Belitung.


Tak hanya menyimpan sejara pertambangan timah, museum ini juga menyimpan cerita tentang nenek moyang asli penduduk Bangka Belitung, juga beberapa benda peninggalan sejarah. Tionghoa Hakka adalah etnis yang mendominasi masyarakat Bangka Belitung hingga sekarang. Sementara Warga Guandong adalah etnis tionghoa yang dikenal sebagai penambang hebat yang sengaja didatangkan oleh kolonial Belanda pada masa itu untuk dijadikan sebagai pasukan penambang timah. Mereka menempati satu kawasan tersendiri yang saat ini telah menjadi dewa wisata yang disebut Desa Wisata - Desa Gedong yang berada di Kecamatan Belinyu, Bangka. Perkampungan ini kemudian menjadi Kampung Pecinan Tertua di Bangka karena telah ada sejak abad ke-18.


Berada di perkampungan ini kita serasa sedang kembali ke kampung Pecinan tempo dulu. Suasana bersahaja sangat terasa saat memasuki perkampungan yang memiliki luas 2,5 hektar ini. Rumah-rumah lawas khas Tionghoa daratam masih tetap bertahan sebagaimana aslinya. Beberapa rumah bahkan masih menggunakan konstruksi pasak, bukan paku. Usia rumah di pemukiman ini rata-rata berusia diatas 100 tahun. 


Penginggalan lain yang tak kalah menarik adalah Kelenteng Kwan Tie Miaw, klenteng tertua di Pulau Bangka. Sedangkan Kelenteng Dewi Kwan Im yang terletak di Desa Burung Mandi, Kecamatan Manggar merupakan kelenteng terbesar di Pulau Belitung yang dibangun tahun 1747.


Tempat lain yang bisa dikunjugi adalah Muntok di Kabupaten Bangka Barat. Kota pelabuhan ini dulu terkenal sebagai tempat pengiriman lada putih dan bijih timah dari Indonesia menuju Eropa. Di sini banyak bangunan bernuansa kolonial Belanda dan bangunan bernuansa Cina serta Melayu. Salah satunya adalah Pasanggahan Menumbing dan Wisma Rangga yang pernah digunakan sebagai tempat pengasingan Bung Karno dan Bung Hatta saat dibuang oleh Belanda tahun 1948-1949. Berdasarkan sisa penginggalan bangunan sejarahnya, secara umum Muntok dibagi menjadi tiga kawasan yakni Kampung Melayu, Eropa dan Cina. Warga Muntok terkenal dengan logat melayu yang kental.


Masyarakat Bangka Belitung memiliki tradisi unik yakni perang ketupat yang dilakukan setiap bulan Sya'ban dalam kalender Islam. Tradisi perang yang menggunakan ketupat sebagai senjata ini biasanya diselenggarakan di Pantai Kuning di Desa Tempilang, Bangka Barat. Tradisi ini telah berlangsung selama berabad-abad, terutama sejak meletusnya Gunung Krakatau di tahun 1883. Hari perang ketupat menjadi hari besar bagi warga setempat, pada hari itu seluruh warga Tempilang tidak ada yang melaut atau berladang karena hari tersebut sudah dianggap menjadi hari libur bagi warga lokal.


Perang ketupat biasanya dimulai dengan Ritual Penimbongan dan Ngancak, yaitu pemberian sesajian kepada leluhur. Penimbongan adalah pemberian sesaji lengkap yang terdiri dari ayam panggang, telur, ketan kuning, pisang, ketupat, dan bertih atau beras yang disangrai. Panimbongan berlangsung dengan iringan Tari Campak, Tari Serimbang, Tari Kedidi, dan Tari Seramao.

Kuliner

Bangka Belitung juga terkenal sebagai surga bagi pecinta kuliner. Variasi kuliner provinsi ini tak lepas dari pengaruh Melayu, Eropa dan Cina. Suku Hakka misalnya, cita rasa khas cina yang dibawa oleh suku ini ke pelataran Bangka cukup membawa pengaruh besar terhadap beberapa jenis makanan tradisional di Bangka dan Belitung. Mie Bangka adalah salah satu yang sangat terkenal di seluruh pelosok negeri. Bercampur dengan tauge, Mie ini khas dengan aroma ikan laut terutama ikan tenggiri. Mie jenis lain yang juga terkenal adalah Mie Koba di Pangkalpinang. Kuah Mie Koba terasa gurih karena terbuat dari kaldu ikan. Pelengkpanya bukan bakso, melainkan telur rebus serta tambahan jeruk kunci yang menghadirkan cita rasa unik.

Setelah mencoba mie, kita bisa memanjakan lidah dengan Pempek dan Otak-otak yang juga khas Bangka Belitung. Pempek dan otak-otak Bangka Belitung sedikit berbeda dibanding makanan sejenis di Palembang. Jika di Palembang makanan ini dimakan dengan kuah kental berwarna hitam yang dibuat dari cuka dan gula merah tapi cenderung manis, di Bangka lebih dominan asam dan pedas, merupakan campuran tauco, terasi dan cabai yang cukup banyak. Bahan dasar ikan yang dipakai juga berbeda, Palembang menggunakan ikan sungai seperti belida atau tenggiri, sedangkan Bangka Belitung menggunakan ikan laut.

Kekayaan kuliner Bangka Belitung tidak berhenti disini. Makanan tradisional berupa kue-kue ringan seperti Kue Wajit, Talam Ubi, Bugis, Kue Asin, Olen-olen, Singkulun, juga Roti Panggang masih mudah ditemukan hingga sekarang. Kudapan ini biasanya mudah ditemukan di warung-warung kopi di sudut-sudut kota dan desa. Tentang tradisi minum kopi, jumlah warung kopi di Bangka Belitung hanya bisa disamai oleh Aceh. "Tak ada hari tanpa kopi", kata mereka. Keakraban warga mudah ditemukan di warung-warung kopi.

Warung Kopi dan Roti Panggang Tung Tau adalah salah satu tempat favorit. Suasana warung kopi yang didirikan sejak tahun 1938 ini santai dan sangat nyaman. Desain warung dibuat modern namun menu makanannya kental dengan cita rasa tradisional Melayu dan Cina Bangka tempo dulu. Fung Tung Tau, sang pemilik warung merupakan warga asli Bangka berketurunan Tionghoa. Makanan Bangka yang sama terkenalnya dengan mie adalah Martabak Bangka. Salah satu yang harus dicoba adalah Martabak Acau, yang bisa menjadi rujukan untuk mengenal lebih jauh kuliner khas Bangka Belitung.

Yang juga tradisional adalah Lempah. Ada beberapa jenis olahan lempah seperti Lempah Kuning, Lempah Kulat (Jamur), atau Lempah Darat Kates. Penganan Rusit yang terbuat dari ikan teri yang difermentasi juga merupakan makanan tradisional provinsi ini.

Cinderamata

Membawa oleh-oleh dari Bangak rasanya tak kan cukup satu tas tangan, sebab banyak ragam kuliner atau cindremata yang layak sebagai oleh-oleh. Seperti Kricu atau kripik cumi. Sesuai namanya kricu berbahan dasar cumi namun diambil telurnya lalu dicampur tepung, dijemur dan digoreng seperti kerupuk. Ada pula Sambal Lingkung. Ini bukanlah jenis sambal melainkan abon yang dibuat dari ikan tenggiri. Biasanya lezat dimakan dengan sajian nasi putih hangat. Sambal Lingkung awet dan pas sebagai oleh-oleh. Siput Gonggong, adalah siput yang telah dipisahkan dari cangkangnya lalu dibuat menjadi kripik. Lempuk, adalah kudapan sejenis dodol yang terbuat dari buah cempedak, saat memakannya serat buah cempedak akan begitu terasa di lidah. 

Bangka Belitung juga memiliki kain bermotif Khas, Kain Cual. Bentuknya serupa dengan songket namun Kain Cual Bangka Belitung umumnya berwarna lebih cerah. Dalam motifnya selalu ada  lengkungan dan corak flora dan fauna. Ada sembilan motif Cual yang dipatenkan Pemerintah, Kembang Kenanga, Bebek dan Kembang Sumping, Ubur-ubur, Merak, Gajah Mada 2003, Kembang Setangkai dan Kembang Rukem dan Kembang Setaman.


Objek Wisata Lainnya
  • Air Panas Tirta Tapta
  • Benteng Penutuk
  • Benteng Tobali
  • Klenteng Kung Fuk Min

Oleh-oleh Bangka Belitung
  • Kerajinan timah (pewter)
  • Tas dan selendang
  • Kopiah resam
  • Alat musik dambus
  • Mainan Gasing
  • Kerajinan dari kerang
  • Siput dan kerang kreasi
  • Kain rajutan (renda)
 selamat berkunjung..!!!


Salam,

Terminal ELF Center

Related Posts:

Blogging Fusion Blog Directory

Blogging Fusion Blog Directory